BUKAN MADRIDISTA DI RAMPOK GIPSI

Aku hanya terdiam di tengah-tengah keriuhan madridista. Serasa seorang diri menatap lirih potret bintang lapangan hijau. Dan pada saat itulah, aku merasakan kecemasan terdalam. Bagaimana mungkin ku menikmati kebahagiaan di negri matador?

Di tengah badai krisis, Spanyol beruntung masih memiliki Sepak Bola. Sayangnya aku bukan salah satu dari Madridista. Dan kala itu, tempat yang sangat wajib dikunjungi adalah Santiago Bernabeu.

Entah kenapa aku harus berada di markas Real Madrid FC dan masih berharap bertemu dengan sang bintang. Siapa yang tak takjub dengan sepak terjang Iker Casillas Fernandes dalam manangkap kulit bundar. Sang Pahlawan mengawali karir juniornya di Real Madrid, kemudian Casillas mulai bermain di tim senior pada tahun 1998. Di Timnas Spanyol, Casillas selalu menjadi pilihan utama sejak ia masih berusia 15 tahun, yaitu dari tahun 1996 hingga sekarang.

Tapi di sisi lain, aku sedih sekali melihat badai krisis di Benua Biru. Banyak anak-anak di bawah umur dipekerjakan sebagai pencopet. Mereka bekerja sangat rapi dan modusnya selalu sama. Setiap kali anak-anak remaja itu mulai beraksi dan mencari mangsa, selalu ada pemimpin yang mengawasi dari jarak yang tak begitu jauh.

Saat mengantri karcis pertandingan di Santiago Bernebeu, aku dirampok Gipsi.

Setelah menandatangani petisi yang berisi pertolongan anak-anak korban perang. Gerombolan Gipsi sontak mengerumuniku dan menarik dopet dari tanganku. Aku hanya terperangah diam, tanpa suara. Bodohnya, aku bahkan tak berani berteriak minta tolong di dalam keramaian. Perempuan itu menggeleng dan memberi kode ke anak buahnya untuk segera menjauh. Punggung kami saling menjauh dan tak lagi pernah saling menoleh.

Lenyap sudah  lembaran uang Euro.

Gipsi sudah lama meresahkan para turis dan membuat catatan buruk disana sini. Modus ini dilakukan hampir di seluruh tempat wisata benua biru. Jujur, ku merasa kesal dan takut memikirkan kenyataan pahit ini.

Aku sama sekali tak mengenal lebih dalam kaum nomaden yang katanya berasal dari Rumania. Penampilan kaum Gipsi memang agak asing dan sedikit kumuh. Selain warna kulit, mata, dan rambut mereka yang gelap. Tata krama serta bahasa penduduk ini sama sekali berbeda. Di seantero benua biru, kelompok Gipsi kerap disebut gitano dalam bahasa Spanyol.

Kisah bertambah rumit bermula ketika aku melapor ke kantor polisi terdekat. Tak ada satupun yang bisa berbahasa Inggris.

Tampaknya Polisi setempat tak kehilangan akal dan segara membawa masuk pria yang dapat membantu alih bahasa, tuk mempermudah proses penyelidikan lanjut. Salah seorang pemuda bermata biru dengan sigap menerjemahkan laporan polisi untukku, dan mendengarkan dengan seksama kisah perampokan yang baru saja terjadi.

Rupanya, sudah tujuh tahun belakangan ini, bertambah banyak pendatang gelap dari Eropa Timur. Kebanyakan berkebangsaan Romania. Dengan singkat, petugas polisi menerangkan jika razia yang mereka lakukan dari tahun ke tahun selalu terbentur oleh masalah yang sama. Usia anak-anak pencopet di bawah umur dan kerap tak bisa dibawa hingga pengadilan. Ciri Gipsi khas sekali. Kebanyakan memang wanita dengan anak-anaknya, bahkan ada yang masih balita.

– Kharis di markas Real Madrid

Setelah laporan selesai, ku bergegas kembali ke Santiago Bernebeu. Sesampai di muka loket, tak ada penjualan tiket untuk pertandingan hari itu. Akhirnya aku hanya menikmati Stadion Tour seharga 15 Euro. Di dalam stadion, aku melihat secara langsung mengenai segala sesuatu tentang Real Madrid. Dan Kapasitas penonton mencapai 80.354 orang, stadion ini terbesar di negri matador. Tak seoarang pun pemain bintang yang dapat ditemui. Selama musim panas, para jagoan kulit bundar cuti bersama.

Semakin sering berpergian makin besar kemungkinan kecurian. Sejak saat itu, aku lebih waspada dan berhati-hati.

Leave a Comment

Your email address will not be published.