TERIMA KASIH GADIS KONDANG MERAK

JADI BEGINI. Empat tahun yang lalu, aku jatuh cinta dengan seorang gadis. Namun dia lenyap bagai ditelan bumi.  Peristiwa itu cukup memukulku.

Aku meradang. Aku sudah lama tidak menangis.

Aku merasa kehilangan. Saat itu aku belajar, bahwa tidak semua kisah cinta berujung bahagia dan sempurna.

Pagi itu, aku berangkat dengan sepeda motor menuju pantai Kondang Merak seorang diri. Hamparan pasir putih  menyambut kehadiranku.

Salah satu surga tersembunyi, akses menuju bibir pantai tidak mudah. Jalannya buruk terutama setelah hari hujan. Dan berjarak sekitar 61 km dari pusat kota Malang.

sebanarnya tak lumayan jauh untuk sampai ke sana.

Pantai cantik yang landai dengan  keindahan terumbu karang dan ikan badut yang lincah, serta beragam aneka hayati.

Usai memarkirkan kendaraan, aku berjalan telanjang kaki di atas hamparan pasir  nan lembut.  Aku menatap lekat ombak laut yang sedang bergulung-gulung tak beraturan.

Langit biru begitu cerah, deburan ombak menghantam bongkahan karang berdiri kokoh menantang ganasnya Samudra Pasifik.

Tak jauh dari Pantai, terdapat sebuah desa nelayan yang begitu sunyi.

Aku berhenti di salah satu kedai milik Mak Sih, hanya untuk makan sate tuna dan sambil meikmati air kelapa segar (tanpa gula).

Semilir angin yang sejuk. Angin bertiup dari arah laut, lembut dan terasa segar di kulit.

Tiga puluh menit, aku mengenang dirinya. Aku tak pernah lupa canda tawa seru dengan gadis berkaca mata itu. Gadis yang memiliki jiwa besar dan kecintaanya terhadap musik.

Sorot tajam matanya membius pikiran terdalam. Dia tak akan pernah kumiliki.

Masalahnya, semakin sering mengingat masa lalu, semakin banyak yang kuingat tentang dirinya.

Jujur, aku menyukai senyum manisnya dan selalu terbayang ketika mataku mulai terpejam.

Seandainya saja memori cinta dapat mudah terhapus, pasti sudah kulakukan sedari dulu. Setiap potongan bait lagu She had The World dari Panic! at the Disco, membawaku terbang ke masa lalu.

Bayang-bayang harmoni tutur katanya terus menghantui diriku.

Seorang gadis di desa nelayan  – Kondang Merak. Dia bercita-cita menjadi seorang musisi. Setiap hari, dia mendengarkan radio dan suka bermain gitar.

Aku menyukai tutur katanya sejak pertama kali kita bicara seputar musik penghantar tidur:  dia selalu terdengar seperti alunan nada-nada minor di telinga orang-orang yang bahagia.

Kita bicara tentang  lagu-lagu yang bagus. Tentang gaya hidup para musisi jenius yang dimuat di beberapa media. Tentang haru biru mimpinya di industri musik. Kita bisa membicarakan ini dan itu.

Menurutku dia sangat anggun. Hatiku selalu riang saat bersamanya.

Aku masih tidak mengerti apa artinya cinta. Entah ya…. Intinya sayang saja, tanpa perlu seribu alasan dan kata-kata puitis.

Pada akhirnya,  aku masih suka dengannya. Apakah ini namanya takdir?

Sinyal kasih sayang  terasa hangat di hati.  Wajahnya begitu lembut, dilengkapi senyum simpul ketika sedang tersipu malu.  

Aku tahu.  Rona wajah penuh bahagia terpancar di balik kacamata minus itu.

Serba salah!

Aku terlena. Setengah mati aku coba buang rasa cinta perdana, tapi herannya muka itu selalu datang lagi datang lagi. Menyusup perlahan-lahan memenuhi ruang di batinku, setelah sekian kali diusir.

Pikiranku terasa aneh.

Hadirnya membuat hidupku ceria. Aku percaya bahwa wanita  yang bahagia selalu tampak lebih cantik. 

Aku kurang tahu bagaimana menyampaikan rasa terima kasih. Ini cinta pertamaku dan aku patah hati.

Sedikit kenangan cinta yang bersemi, namun tak mudah musnah.

Hari itu, aku termenung  menghadap laut selatan.

Tak disangka. Tak diduga. Cinta adalah kekuatan hati terdalam. Aku tak ingin kehilangan gadiz tersebut.